Banyak manusia berdiri dalam sholat, tetapi hatinya masih sibuk mengeluhkan dunia. Lisannya membaca ayat-ayat Allah, namun pikirannya dipenuhi rasa kecewa, iri hati, amarah, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan yang dijalaninya.
Kadang kita lupa, sholat bukan hanya kewajiban untuk menggugurkan dosa, melainkan tempat seorang hamba kembali mengingat siapa dirinya di hadapan Allah.
Ironisnya, ada orang yang setiap hari meminta tambahan rezeki, tetapi lupa bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki. Masih bisa bernapas, masih diberi tubuh sehat, masih memiliki keluarga, masih bisa makan, masih bisa sujud — namun semua itu dianggap biasa karena hati terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki.
Akibatnya, sholat terasa berat dan kosong. Bibir berdoa, tetapi hati tidak hadir. Sujud dilakukan, tetapi jiwa tetap gelisah.
Padahal, orang yang hatinya penuh keluhan akan sulit merasakan nikmatnya ibadah. Karena keluhan yang berlebihan perlahan menutupi rasa syukur.
Ada manusia yang ketika sholat justru sibuk menghitung kekurangan hidupnya:
merasa rezekinya kurang,
merasa hidupnya paling berat,
merasa dirinya paling menderita,
bahkan membandingkan nasibnya dengan orang lain.
Namun ia lupa menghitung berapa banyak nikmat Allah yang masih ia genggam setiap hari.
Seandainya Allah mencabut kesehatan hanya satu hari saja, manusia akan sadar bahwa berjalan tanpa rasa sakit adalah nikmat besar. Seandainya Allah menghentikan detak jantung beberapa menit saja, manusia akan sadar bahwa hidup adalah karunia yang luar biasa.
Tetapi manusia sering baru menghargai nikmat ketika nikmat itu telah hilang.
Karena itu, sholat seharusnya menjadi tempat melatih hati agar lebih sadar diri, lebih banyak bersyukur, dan lebih banyak memohon ampunan daripada mengeluh tentang dunia.
Jangan sampai kita rajin meminta:
“Ya Allah tambahkan rezekiku,”
tetapi lupa berkata:
“Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang masih Engkau titipkan kepadaku.”
Dan jangan sampai kita sibuk menangisi apa yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada.
Hati yang terlalu cinta dunia akan sulit tenang dalam ibadah. Namun hati yang penuh syukur akan mudah merasakan damai meski hidup sederhana.
Orang yang benar-benar memahami makna sholat tidak akan datang kepada Allah hanya saat punya masalah. Ia juga datang membawa rasa syukur, rasa malu atas dosa-dosanya, dan harapan agar Allah membersihkan hatinya dari kesombongan serta keluhan yang berlebihan.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan bukan tentang siapa yang memiliki dunia paling banyak, tetapi siapa yang paling mampu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
Perbanyak istighfar. Perbanyak syukur. Kurangi mengeluh.
Karena hati yang bersih dari keluhan akan lebih mudah khusyuk dalam sujud, lebih tenang menerima takdir, dan lebih dekat merasakan rahmat Allah dalam setiap ibadahnya.
Komentar
Posting Komentar