Di zaman sekarang, banyak orang begitu mudah menilai salah orang lain, namun sulit bercermin pada dirinya sendiri. Sedikit merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih religius, lebih berpengalaman, lalu muncul kebiasaan merasa paling benar. Padahal, hidup bukan panggung untuk saling meninggikan ego, melainkan tempat belajar memperbaiki diri.
Ada orang yang mulutnya penuh nasihat, tetapi sikapnya melukai banyak hati. Ada yang paling keras berbicara tentang moral, tetapi diam-diam tidak mampu mengendalikan kesombongannya sendiri. Bahkan ada yang merasa dirinya paling suci, seolah-olah surga sudah memesan tempat khusus untuknya.
Padahal manusia itu tempat salah dan lupa.
Sadar diri adalah kemampuan melihat kekurangan diri sendiri sebelum sibuk menghakimi orang lain. Orang yang sadar diri tidak mudah merendahkan, karena ia tahu dirinya pun masih penuh cacat. Ia tidak sibuk mencari noda di baju orang lain sementara bajunya sendiri belum dicuci.
Tahu diri adalah memahami batas. Tahu kapan bicara, kapan diam, kapan menasihati, dan kapan harus belajar mendengar. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua perbedaan harus dimusuhi. Kadang seseorang terlalu memaksakan pendapatnya hanya karena ingin terlihat paling pintar di hadapan orang banyak.
Yang lebih berbahaya lagi adalah “bikin diri” paling benar.
Merasa diri paling benar sering melahirkan penyakit hati:
1. mudah meremehkan,
2. susah menerima kritik,
3. gemar membuka aib orang,
4. dan haus pengakuan.
Ironisnya, orang yang paling keras menghakimi sering kali lupa bahwa hidup manusia bisa berubah kapan saja. Hari ini mungkin terlihat baik, besok belum tentu kuat menghadapi ujian. Hari ini menertawakan kesalahan orang, besok bisa jatuh pada lubang yang sama.
Karena itu, orang bijak lebih memilih memperbaiki diri daripada sibuk menjadi hakim kehidupan orang lain.
Kita tidak pernah tahu siapa yang diam-diam lebih mulia di sisi Tuhan. Bisa jadi orang yang sering diremehkan justru memiliki hati paling bersih. Dan bisa jadi orang yang merasa dirinya paling benar justru sedang kalah oleh kesombongannya sendiri.
Hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi perlombaan ego.
Kalau memang merasa baik, jadilah baik tanpa merendahkan. Kalau merasa pintar, gunakan ilmu untuk menenangkan, bukan menjatuhkan. Kalau merasa paham agama, jadilah penyejuk, bukan alat menghakimi manusia lain.
Sebab semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.
Jangan sampai lidah sibuk menilai orang lain, sementara hati sendiri belum selesai diperbaiki. Jangan terlalu bangga dengan citra baik di mata manusia, karena yang paling penting adalah bagaimana keadaan hati di hadapan Tuhan.
Pada akhirnya, manusia yang paling indah bukan yang merasa paling benar, tetapi yang mau terus belajar membenahi dirinya sendiri.
Karena sadar diri itu tanda kedewasaan, tahu diri itu tanda kebijaksanaan, dan tidak merasa paling benar itu tanda hati yang masih hidup.
Komentar
Posting Komentar