Dalam kehidupan yang semakin gaduh oleh ambisi dunia, manusia sering lupa bahwa hidup ini hanyalah persinggahan sementara. Banyak orang sibuk mengejar harta, jabatan, pujian, dan pengakuan, seolah-olah semua itu akan dibawa sampai ke liang kubur. Padahal kenyataannya, ketika maut datang menjemput, tidak ada satu pun kemewahan dunia yang ikut menemani selain amal dan selembar kain kafan.
Karena itu, sabar bukan sekadar nasihat agama yang diucapkan di mimbar-mimbar. Sabar adalah kebutuhan hidup. Bahkan, semakin keras ujian kehidupan, semakin tinggi pula kebutuhan manusia terhadap kesabaran.
Ada orang yang sabar saat miskin, tetapi hancur ketika diberi kekayaan. Ada yang kuat menghadapi hinaan manusia, namun tumbang oleh pujian. Ada pula yang tampak tegar di hadapan dunia, tetapi diam-diam kalah oleh hawa nafsunya sendiri. Maka sabar bukan hanya tentang menahan air mata, melainkan kemampuan menjaga hati agar tetap lurus di tengah segala keadaan.
Sering kali manusia merasa hidupnya paling berat. Ketika rezeki sempit, ia marah kepada keadaan. Ketika usahanya gagal, ia menyalahkan takdir. Ketika doanya belum terkabul, ia mulai mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal boleh jadi, justru melalui kesulitan itulah Allah sedang membersihkan dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya.
Manusia lupa bahwa dunia tidak pernah dijanjikan menjadi tempat istirahat. Dunia adalah tempat ujian. Hari ini tertawa, besok bisa menangis. Hari ini dipuji, besok bisa dihina. Hari ini duduk di kursi kekuasaan, besok bisa jatuh tanpa penghormatan. Semua berputar tanpa ada yang benar-benar abadi.
Maka orang yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling siap menghadapi kematian.
Kuburan tidak pernah bertanya berapa harga kendaraan seseorang. Liang lahat tidak peduli seberapa tinggi jabatan manusia. Tanah tidak membedakan antara orang kaya dan miskin. Ketika nyawa telah sampai di tenggorokan, semua gelar dan kebanggaan dunia kehilangan nilainya.
Yang tersisa hanyalah:
1. Amal baik yang pernah dilakukan.
2. Doa yang tulus.
3. Sedekah yang ikhlas.
4. Air mata taubat di waktu sunyi.
Dan kain kafan yang membungkus tubuh yang dulu begitu dibanggakan.
Ironisnya, manusia sering bertengkar demi sesuatu yang tidak akan dibawa mati. Ada yang memutus silaturahmi karena warisan. Ada yang tega menjatuhkan saudaranya demi jabatan. Ada yang rela mengorbankan harga diri hanya demi pujian sesaat. Padahal umur semakin hari semakin berkurang.
Sabar mengajarkan manusia untuk tidak terlalu rakus terhadap dunia. Sebab orang yang sabar memahami bahwa hidup ini hanyalah titipan. Ketika kehilangan, ia belajar ikhlas. Ketika dihina, ia memilih diam. Ketika gagal, ia tetap berusaha tanpa putus asa. Dan ketika berhasil, ia tidak sombong.
Kesabaran bukan tanda kelemahan. Justru orang yang sabar adalah orang yang paling kuat. Sebab menahan ego jauh lebih sulit daripada melawan musuh.
Hari ini mungkin kita masih bisa tertawa, berjalan, dan berbicara. Namun tidak ada yang tahu kapan kain kafan mulai disiapkan untuk tubuh kita sendiri. Tidak ada yang tahu kapan nama kita dipanggil untuk terakhir kalinya.
Karena itu, sebelum terlambat:
1. Perbaiki shalat.
2. Jaga lisan.
3. Kurangi iri dan dengki.
Ringankan tangan membantu orang lain.
Minta maaf sebelum ajal datang.
Dan tingkatkan kesabaran dalam menghadapi hidup.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak pulang membawa rumah mewah, rekening, ataupun pujian manusia. Kita hanya pulang membawa amal dan kain kafan.
Maka bersabarlah. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling kaya di dunia, tetapi siapa yang paling baik persiapannya untuk akhirat.
Komentar
Posting Komentar